oleh

Diduga Mark-Up Harga Warga Tolak Pembagian Itik Yang Dilaksanakan Pemdes Tanjung Agung Kec.Seginim.

TargetHukum Bengkulu Selatan – aksi yang sangat disayangkan dilakukan oleh Warga Desa Tanjung Agung Kecamatan Seginim dengan serentak tolak bantuan itik, hal ini diakibatkan Pemdes Tanjung Agung laksanakan pembagian itik yang didanahi dengan dana Desa bidang ketahanan pangan yang disinyalir mark-up harga satuan.
Hari ini Pemdes Tanjung Agung laksanakan kegiatan pembagian itik terhadap warga, namun sesudah warga kumpul untuk hadiri undangan pembagian itik, warga dengan serentak menolak pembagian itik tersebut. Hal ini diakibatkan warga tidak sepakat dengan harga satuan yang dianggarkan yang tidak sesuai spek besaran itik yang akan dibagi.
Beberapa warga pada acara pembagian itik ini secara bergantian memprotes pemdes Tanjung Agung terkait harga satuan, serta mempertanyakan spek besaran itik yang dianggarkan sesuai dengan harga satuan itik yang harganya fantastis. “kami bukan tidak mensyukuri bantuan pemerintah, namun kami ingin keterbukaan dan kejujuran Pemdes atas bantuan ini. Hal ini kami utarakan karena sesuai harga satuan yang sangat fantastis untuk besaran harga itik, besar per ekor itik tidak sesuai dengan harga menurut kami, karena itik yang diadakan oleh Pemdes setempat kalau kata kami masih jantung (masih muda)” jelas Warga.
Untuk diketahui Pemdes Tanjung Agung Kecamatan Seginim rencananya akan bagikan bantuan itik sebanyak 1288 ekor, yang mana rencananya akan dibagi sebanyak 7 ekor per KK dan akan dibagi untuk 184 KK.
Salah satu perangkat Desa setempat saat dikonfirmasi terkait harga satuan itik yang akan dibagikan menyatakan “harga itik yang kami anggarkan seharga Rp.98.000.000/ekor”, terkait pemesanan itik menurut perangkat beliau menyatakan dipesan oleh Kades bukan TPK, tambahnya.
Sementara itu Kades Tanjung Agung Kecamatan Seginim Januari menjawab apa yang dipertanyakan warga dengan menyatakan “anggaran yang dianggarkan bukan untuk pembelian itik saja, namun disitu ada pajak dan yang lain-lainnya termasuk pengurusannya” jawab Januari.
Disisi lain pendamping Desa Tanjung Agung Pandi menjelaskam terkait besaran itik menjelaskan “adanya perbedaan besaran itik itu hal yang lumrah sebab terkadang dengan adanya perebutan dalam makan sudah barang pasti besarnya tidak sama” terang Pandi.
Menyikapi hal ini Ketua LSM Kibar Kabupaten Bengkulu Selatan Hotma angkat bicara “Pemdes Tanjung Agung tidak boleh ambil keuntungan atas program ini, seluruh aturan sudah jelas terlebih Kades masih tergolong baru namun kebijakannya disinyalir sudah tidak berpihak dengan warga. Tutur Hotma.
Hotma juga menambahkan Pemdes Tanjung Agung jangan sampai bermain main terhadap anggaran apalagi anggaran yang dipermainkan dibidang ketahanan pangan, sebab ketahanan pangan ini adalah anggaran yang menjadi perioritas pemerintah, dengan adanya hal diatas terjadi di Desa Tanjung Agung kiranya pihak yang berkompeten tidak bisa tinggal diam, kita meminta agar pengadaan itik di desa Tanjung Agung dapat diproses, tutup Hotma. (JN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed